Watak: Suka menolong dan sabar. Suami : Pandhu Dewanata yang berputra Yudhistira, Werkudara dan Janaka tetapi aslinya itu adalah putra dari Dewa Dharma, Bayu dan Indra. Kunthi juga memiliki anak lain yaitu Karna yang berasal dari titisan Dewa Surya. Dalam perang mahabarata dia menjadi ibu yang sangat setia dan sabar.
Hikayatini ditulis Muhammad Bakir berdasarkan cerita seorang dalang dari Kampung Jagal, Pasar Senen. Cerita Hikayat Asal Mulanya Wayang berisi silsilah Pandu
Arjuna(Dewanagari: अर्जुन; , IAST: Arjuna,) adalah nama seorang tokoh protagonis dalam wiracarita Mahabharata.Ia dikenal sebagai anggota Pandawa yang berparas menawan dan berhati lemah lembut. Dalam Mahabharata diriwayatkan bahwa ia merupakan putra Prabu Pandu, raja di Hastinapura dengan Kunti atau Perta, putri Prabu Surasena, raja Wangsa
PrabuPandu Dewanata Raja Negeri Astina . Sang Prabu duwe anak lima , lanang kabeh . Kuntadewa , Jayasena , Arjuna , Nakula lan Sadewa . Aksara jawa muasal cerita sing raja apa ? (UKK) SEKOLAH DASAR TAHUN PELAJARAN : 2012 – 2013 Mata Pelajaran : Bahasa Cirebon UKK Bahasa Cirebon Kelas 2. ULANGAN KENAIKAN KELAS (UKK)
. Dalam pewayangan, tokoh Pandu Dewanata Bahasa Jawa Pandhu merupakan putera kandung Abiyasa yang menikahi Ambalika, janda Wicitrawirya. Bahkan, Abiyasa dikisahkan mewarisi takhta Hastinapura sebagai raja sementara sampai Pandu dewasa. Masa Muda Pandu Dewanata Pandu digambarkan berwajah tampan namun memiliki cacat di bagian leher, sebagai akibat karena ibunya memalingkan muka saat pertama kali menjumpai Abiyasa. Para dalang mengembangkan kisah masa muda Pandu yang hanya tertulis singkat dalam Mahabharata. Misalnya, Pandu dikisahkan selalu terlibat aktif dalam membantu perkawinan para sepupunya di Mathura. Pandu pernah diminta para dewa untuk menumpas musuh kahyangan bernama Prabu Nagapaya, raja raksasa yang bisa menjelma menjadi naga dari negeri Goabarong. Setelah berhasil melaksanakan tugasnya, Pandu mendapat hadiah berupa pusaka minyak Tala. Pandu kemudian menikah dengan Kunti setelah berhasil memenangkan sayembara di negeri Mathura. Ia bahkan mendapatkan hadiah tambahan, yaitu Puteri Madrim, setelah berhasil mengalahkan Salya, kakak sang puteri. Di tengah jalan ia juga berhasil mendapatkan satu puteri lagi bernama Gandari dari negeri Plasajenar, setelah mengalahkan kakaknya yang bernama Prabu Gendara. Putri yang terakhir ini kemudian diserahkan kepada Dretarastra, kakak Pandu. Pandu juga mempunya adik bernama Widura. Pandu naik takhta di Hastina menggantikan Abiyasa dengan bergelar "Prabu Pandu Dewanata" atau "Prabu Gandawakstra". Ia memerintah didampingi Gandamana, pangeran Panchala sebagai patih. Tokoh Gandamana ini kemudian disingkirkan oleh Sangkuni, adik Gandari secara licik. Keluarga Pandu Dewanata Dari kedua istrinya, Pandu mendapatkan lima orang putra yang disebut Pandawa. Berbeda dengan kitab Mahabharata, kelimanya benar-benar putera kandung Pandu, dan bukan hasil pemberian dewa. Para dewa hanya dikisahkan membantu kelahiran mereka. Misalnya, Bhatara Dharma membantu kelahiran Yudistira, dan Bhatara Bayu membantu kelahiran Bima. Kelima putra Pandu semuanya lahir di Hastina, bukan di hutan sebagaimana yang dikisahkan dalam Mahabharata. Kematian Pandu Dewanata Kematian Pandu dalam pewayangan bukan karena bersenggama dengan Madrim, melainkan karena berperang melawan Prabu Tremboko, muridnya sendiri. Dikisahkan bahwa Madrim mengidam ingin bertamasya naik Lembu Nandini, wahana Batara Guru. Pandu pun naik ke kahyangan mengajukan permohonan istrinya. Sebagai syarat, ia rela berumur pendek dan masuk neraka. Batara Guru mengabulkan permohonan itu. Pandu dan Madrim pun bertamasya di atas punggung Lembu Nandini. Setelah puas, mereka mengembalikan lembu itu kepada Batara Guru. Beberapa bulan kemudian, Madrim melahirkan bayi kembar bernama Nakula dan Sadewa. Sesuai kesanggupannya, Pandu pun berusia pendek. Akibat adu domba dari Sangkuni, Pandu pun terlibat dalam perang melawan muridnya sendiri, yaitu seorang raja raksasa dari negeri Pringgadani bernama Prabu Tremboko. Perang ini dikenal dengan nama Pamoksa. Dalam perang itu, Tremboko gugur terkena anak panah Pandu, namun ia sempat melukai paha lawannya itu menggunakan keris bernama "Kyai Kalanadah". Akibat luka di paha tersebut, Pandu jatuh sakit. Ia akhirnya meninggal dunia setelah menurunkan wasiat agar Hastinapura untuk sementara diperintah oleh Dretarastra sampai kelak Pandawa dewasa. Antara putera-puteri Pandu dan Tremboko kelak terjadi perkawinan, yaitu Bima dengan Arimbi, yang melahirkan Gatotkaca, seorang kesatria berdarah campuran, manusia dan raksasa. Naik ke sorga Istilah Pamoksa seputar kematian Pandu kiranya berbeda dengan istilah moksa dalam agama Hindu. Dalam "Pamoksa", Pandu meninggal dunia musnah bersama seluruh raganya. Jiwanya kemudian masuk neraka sesuai perjanjian. Atas perjuangan putera keduanya, yaitu Bima beberapa tahun kemudian, Pandu akhirnya mendapatkan tempat di surga. Versi lain yang lebih dramatis mengisahkan Pandu tetap memilih hidup di neraka bersama Madrim sesuai janjinya kepada dewa. Baginya, tidak menjadi masalah meskipun ia tetap tinggal di neraka, asalkan ia dapat melihat keberhasilan putera-puteranya di dunia. Perasaan bahagia melihat dharma bakti para Pandawa membuatnya merasa hidup di sorga.
Ilustrasi Wayang Mahabharata. Sumber Foto PribadiWayang adalah karya sastra tradisional yang menceritakan tentang kepahlawanan tokoh yang menghadapi tokoh jahat, menurut Nurgiyantoro 201119. Wayang sejatinya menempuh berbagai sejarah dari masa ke masa. Hal itu menunjukkan betapa kentalnya budaya wayang di bangsa Indonesia, khususnya di Jawa. Wayang dianggap sebagai mahakarya karena nilainya yang tinggi dalam peradaban manusia. Selain itu, wayang memiliki nilai yang tinggi karena dapat mencerminkan karakter dan cerita yang dapat digunakan untuk pengembangan karakter pada generasi milenial. Budaya wayang merupakan kemajuan bangsa, dengan nilai-nilai luhur tradisi untuk melestarikan eksistensi budaya wayang yang ada. Wayang sangat digemari oleh banyak kalangan peminat wayang, mulai dari orang dewasa hingga remaja, karena dapat menjadi nilai epos Mahabharata yang ditulis dalam bahasa Sanskerta, naskahnya disunting menjadi bahasa Jawa Kuna, kemudian ditambahkan legenda menjadi cerita Mahabharata versi Jawa, cerita wayang versi Jawa semakin populer dan ditulis ulang dengan cerita dari Jawa Tengah, Jawa Lama, dan Jawa Baru. Akhirnya, cerita Mahabharata diadaptasi menjadi sebuah lakon wayang yang dipentaskan dalam pertunjukan wayang kulit dan wayang orang. Keduanya memiliki karakteristik yang berbeda. Wayang kulit misalnya lebih populer dalam pertunjukan wayang daripada wayang wong karena lebih digemari oleh masyarakat umum. Alhasil, cerita wayang Mahabharata diperkenalkan kepada masyarakat untuk diwariskan melalui pertunjukan wayang kulit lisan yang memiliki ciri khas cerita rakyat, Nurgiyantoro, 201119.Dari segi pewayangan, Mahabharata menjadi kisah dari cerita wayang di Indonesia. Menurut Nurgiyantoro 201127, mahabharata berasal dari India yang telah diterima dalam pementasan wayang di Indonesia sejak zaman Hindu sampai sekarang, baik dari wayang kulit dan wayang orang yang digunakan dalam pementasan wayang. Dari apa yang sudah kami lihat di Museum Wayang, Jakarta Barat bahwa tokoh wayang yang terlibat dalam cerita Mahabharata itu terdiri dari lima laki-laki ksatria dan membela kebenaran. Selain itu, dipajang bersamaan yang terbuat dari kulit, masing-masing memiliki bentuk, warna, dan karakter yang berbeda. Sebagaimana yang telah diceritakan dalam Mahabharata bahwa Prabu Pandu Dewanata memiliki dua orang istri, yaitu Kunti dan Madri. Dalam Mahabaratha diceritakan bahwa pandu tidak memiliki anak akibat dikutuk oleh resi. Kutukan itu terjadi sesudah pandu memanah resi tanpa sepengetahuannya dan sang resi berubah menjadi kijang. Hingga dimana Prabu dan Kunti memiliki seorang anak yaitu Yudistira, Bima, dan Arjuna. Sementara pernikahan Prabu dengan Madri di karuniai dua anak kembar yaitu Nakula dan Sadewa. Dari sinilah Prabu Pandu Dewanata mempunyai lima orang anak dan dijuluki sebagai Pandawa. Sesuai dengan judulnya, berikut karakteristik dari kelima Pandawa pada cerita wayang Mahabharata. Menurut Arifin & Hakim 2021617, Pertunjukan wayang merupakan budaya tersendiri karena didalamnya terdapat unsur pendukung untuk mengiringi pertunjukan; Misalnya, di setiap daerah ceritanya berbeda-beda, dan karakter yang dimainkan akan mengandung pesan moral kehidupan yang akan dijadikan cerminan dalam kehidupan karakter dalam Pandawa ini dapat dijadikan sebagai nilai-nilai kehidupan yang baik yang dapat diterapkan, diakui, dan diyakini oleh semua orang. Menurut Nurgiyantoro, 201128, pendidikan karakter digunakan sebagai pembentuk karakter untuk menanamkan moral kehidupan pada generasi milenial guna menanamkan nilai-nilai agama yang bermoral dan berakhlak mulia. Alhasil, pendidikan karakter menitikberatkan pada nilai-nilai luhur yang diterapkan Pandawa dalam cerita wayang Mahabharata, yang diharapkan agar anak menjadi pribadi yang berkarakter sejati dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Berikut karakter dari Pandawa untuk menjadi cerminan kehidupanYang pertama bernama Yudistira, yang merupakan putra sulung dari Pandu dan Kunti. Ia memiliki panggilan kecil yaitu Puntadewa dan penjelma Dewi Yama. Dalam dunia pewayangan, Yudistira memimpin sebuah negara yaitu Amarta. Menurut Wiyono dalam Arifin & Hakim 2021617, Yudistira adalah sosok bijaksana yang mudah memaafkan kesalahan orang lain, adil, sabar, jujur, percaya diri, dan berani mengambil keputusan. Dalam kehidupan sehari-hari, hal yang sama terjadi. Perilaku dan karakter Yudistira yang baik harus ditiru. berpengaruh dalam kehidupan orang lain Misalnya, di era modern ini, kebalikan dari sikap dan sifat Yudistira, yang meliputi berbohong, egois, dan selalu menyalahkan orang lain. Alhasil, karakter Yudistira dapat diteladani dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi bekal dalam kepribadian seseorang untuk mengubah karakternya menjadi lebih merupakan putra kedua dari pasangan Pandu dan Kunti ini adalah Bima. Nama kecil Bima sendiri adalah Sena. Bima adalah penjelma Dewa Bayu, maka dari itu Bima diberi julukan Bayu sutha. Menurut Dyna dalam Arifin & Hakim 2021617, Kepribadian Bima dikenal sangat kuat di antara saudara-saudaranya. Memiliki tubuh yang besar, kekar, tinggi, dan wajah garang. Namun hal tersebut tidak membuat Bima menjadi sombong, karena dia sangat baik kepada kakak laki-lakinya dan mengayomi adik-adiknya. Bima memiliki hati yang lembut dan perhatian. Karena sebagian orang diharuskan untuk mengadopsi perilaku Bima, maka sifat Bima meliputi nilai-nilai sosial. Namun, akibat kurangnya pembiasaan orang tua atau pendidikan formal yang mereka terima, nilai-nilai sosial tersebut menurun pada generasi sekarang. Padahal, sikap seperti Bima patut diteladani dalam dunia pendidikan sebagai bekal dan pengaruh dalam kehidupan merupakan putra bungsu dari pernikahan Pandu dan Kunti adalah Arjuna. Arjuna memiliki nama kecil yaitu Permadi. Ia merupakan penjelmaan dari Dewa Indra yang merupakan Dewa Perang. Menurut Wiyono dalam Arifin & Hakim 2021617, Arjuna adalah seorang ksatria cerdik yang sangat pandai menggunakan berbagai macam alat perang, terlebih lagi panah. Kemahirannya inilah yang membuatnya menjadi tumpuan Pandawa ketika perang. Putra Kunti ini dianggap sebagai anak tertampan diantara keempat saudaranya yang lain. Menurut Dyna dalam Arifin & Hakim 2021617, Arjuna memiliki sifat pendiam, pandai, sopan santun, berani, penyayang, lemah lembut dan suka membantu juga melindungi yang lemah. Sikap seperti Arjuna yang dapat diteladani para generasi muda, karena memiliki jiwa yang bijaksana, sopan santun, berani serta selalu menjadi tameng untuk orang-orang yang tidak memiliki kekuatan. Tingkah laku Arjuna sangat berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari, dan mengajarkan kepada generasi muda untuk berani menolak sesuatu yang tidak sesuai dengan kebenaran. Namun jika dibandingkan dengan generasi muda saat ini, sulit untuk mengatakan apa yang mereka inginkan karena perbandingan strata sosial selalu terdistorsi. Akibatnya, sangat sulit untuk diterapkan dalam salah satu anak kembar dari pasangan Pandu dan Madri. Nama kecil Nakula adalah Pinten. Nakula merupakan penjelma Dewa Aswin sebagai Dewa pengobatan. Menurut Wiyono dalam Arifin & Hakim 2021617, Nakula memiliki sifat yang jujur, taat pada orang tua, sangat tau arti membalas budi seseorang, setia dan pandai menjaga rahasia. Di zaman sekarang ini, sebagian generasi muda sangat minim dalam menaati orang tua, dan perilaku menyimpang yang membuat mereka merasa bangga dengan perintah orang tua adalah hal yang biasa. Contohnya antara lain tidak merokok, tidak terlibat perkelahian, dan tidak membolos saat pertama kali masuk sekolah. Selain itu, keterampilan lain dalam kehidupan nyata adalah kemampuan menyimpan rahasia. Sifat ini tentu saja berbanding terbalik dengan kehidupan nyata, ketika seseorang diberitahu sesuatu yang rahasia tetapi kemudian menyebarkan informasi yang melanggar kerahasiaan merupakan saudara kembar dari Nakula. Dia merupakan anak bungsu dari Pandu dan Dewi Madri. Nakula dan Sadewa sama-sama penjelma Dewa kembar bernama Aswin yaitu Dewa pengobatan. Menurut Wiyono dalam Arifin & Hakim 2021617, Sadewa memiliki sifat yang bijaksana, rajin, jujur, dan setia, serta ahli Astronomi. Banyak orang di zaman sekarang ini tidak jujur tentang apa yang mereka lakukan untuk keuntungan pribadi. Hal ini tentu saja lumrah karena kepercayaan masyarakat sudah mulai berkurang. Misalnya, pertimbangkan seorang siswa yang menyontek saat ujian sedang berlangsung. Tentu saja, para siswa ini melakukannya untuk keuntungan mereka sendiri untuk mendapatkan nilai dengan karakteristik tokoh Pandawa yang telah dijabarkan bahwa Pandawa sangat berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari, dimana terdapat nilai sosial, nilai moral, dan nilai pendidikan. Tentunya hal ini dapat dijadikan sebagai motivasi bagi generasi muda saat ini. Jiwa kelima tokoh Pandawa ini menanamkan sikap peduli terhadap sesama dan sesama, tidak hanya kepada saudaranya tetapi juga kepada orang lain yang membutuhkan bantuan, membedakan mana yang adil dan mampu membela kebenaran secara M., & Hakim, A. R. 2021. Kajian karakter tokoh pandawa dalam kisah mahabharata diselaraskan dengan pendidikan karakter bangsa Indonesia. Jurnal Syntax Transformation, 25, 613– B. 2011. Wayang dan pengembangan karakter bangsa. Jurnal Pendidikan Karakter, 11.
cerita wayang pandu dewanata dalam bahasa jawa